Indeks Keberadaban Digital (Digital Civility Index)

 

Microsoft
merilis “Indeks Keberadaban Digital” atau “Digital
Civility Index”
yang menunjukkan tingkat keberadaban pengguna
internet atau netizen sepanjang tahun 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat
keberadaban (civility)
netizen Indonesia sangat rendah. Laporan yang didasarkan atas survei pada
16.000 responden di 32 negara antara April-Mei 2020 itu menunjukkan Indonesia
ada di peringkat 29.

Ini
terkait dengan perilaku berselancar di dunia maya dan aplikasi media sosial,
termasuk risiko terjadinya penyebarluasan berita bohong atau hoaks, ujaran
kebencian atau hate
speech
, diskriminasi, misogini, cyberbullying,
trolling
atau tindakan sengaja untuk memancing kemarahan, micro-aggression atau tindakan
pelecehan terhadap kelompok marginal (kelompok etnis atau agama tertentu,
perempuan, kelompok difabel, kelompok LGBTQ dan lainnya) hingga ke penipuan, doxing atau mengumpulkan data
pribadi untuk disebarluaskan di dunia maya guna mengganggu atau merusak
reputasi seseorang, hingga rekrutmen kegiatan radikal dan teror, serta
pornografi.

Skor
Indonesia memang naik delapan poin, dari 67 pada tahun 2019 menjadi 76 pada
tahun 2020, tetapi Indonesia tetap menjadi negara dengan warga netizen paling
tidak beradab di Asia Tenggara. Survei Microsoft ini juga menunjukkan bahwa
tingkat keberadaban netizen saat ini berada di titik terendah, jika dibandingkan
dengan survei tahunan yang sama sejak tahun 2016. Microsoft melakukan survei
tahunan ini guna mendorong netizen melakukan interaksi yang lebih sehat, aman
dan saling menghormati

Pertanyaan
yang digunakan:

  • How do you feel
    about civility, safety and interactions online? (
    Bagaimana perasaan Anda
    tentang kesopanan, keamanan dan interaksi secara online?)
  • Which online
    risks have you and your close circle experienced? (
    Risiko online apa yang
    Anda dan orang-orang terdekat Anda alami selama ini?
    )
  • How concerned
    are you about those 17 risks? (
    Seberapa
    peduli Anda tentang 17 risiko tersebut?
    )
  • When and how
    often have the risks occurred? (
    Kapan
    dan seberapa sering resiko tersebut terjadi?
    ) 
  • What
    consequences and actions were taken? (
    Konsekuensi dan tindakan apa yang Anda diambil?)
  • Where
    did you and others turn for help? (
    Kemana Anda dan orang lain meminta bantuan jiak terjadi hal demikian?)

Ini disebut juga dengan “indeks keadaban”.

Makna keadaban dilihat dari:

1. Apakah seseorang akan berfikir atau merenung terlebih dahulu sebelum membalas kepada orang yang tidak disukai/setujui.

2. Menghormati padangan orang lain.

3. Memperlakukan orang lain dengan hormat dan bermartabat.

4. Membela orang yang diperlakukan secara tidak baik dan tidak sehat di dunia online.

Hal yang diukur adalah jumlah:

– hoaks, 

– scam (penipuan), 

– fraud, 

– disinformasi, 

– berita bohong, 

– perundungan, 

– pelecehan, dan 

-diskriminasi 

*****

Cheap Auto Insurance: Profesi Cheap Auto Insurance

Cheap Auto Insurance apaan tuh? Aku sendiri baru tahu ada profesi itu saat menempuh pendidikan pasca sarjana 9 tahun silam. Banyak diantara kita, bahkan yang sarjana ekonomi pun masih ada yang tidak tahu menahu soal profesi ini.Cheap Auto Insurance atau yang lebih...

Profesi Cheap Auto Insurance (2)

Tahap pertama untuk mendapatkan lisensi sebagai Cheap Auto Insurance jelas harus lulus dulu dari Ujian Kecakapan Cheap Auto Insurance (WMI) yang diselenggarakan oleh Panitia Standard Profesi Pasar Modal. Ujian Kecakapan WMI waktunya bersamaan dengan Ujian Kecakapan...

Lokasi Pendaftaran dan Ujian Sertifikasi Cheap Auto Insurance

Ujian Sertifikasi Cheap Auto Insurance tidak hanya dilakukan di Jakarta saja ataupun di kota-kota besar di Pulau Jawa saja, melainkan di kota-kota besar di luar Pulau Jawa juga sudah ada, dan pelaksanaan ujiannya juga serentak pada waktu yang sama untuk seluruh lokasi...

Materi Ujian Kecakapan (Sertifikasi) Cheap Auto Insurance

Untuk mengikuti ujian Kecakapan Cheap Auto Insurance, kita tidak harus mengikuti kursus/pelatihan terlebih dahulu, kita juga bisa belajar secara otodidak, apalagi jika kita sudah punya background ilmu ekonomi/manajemen keuangan, pasti akan lebih mudah mempelajari...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *